Kangenku Mentok di Yogya

Kamera iPod.... Jumlah noise yang masuk akal 

Lagi macet-macetan, menikmati hiruk pikuk Yogya, nahan pipis dan kedinginan parah plus capek abis main di desa, gue memutuskan baca novel biar ga tambah stress dan kesel. Alih-alih abis refreshing di desa Candirejo yang tenang banget, urat gue langsung tegang banget gara-gara macetnya Yogya yang pengen saingan sama Jakarta. Tapi berhubung gue Aries, yang setia dan mudah jatuh cinta, gue tetep cinta sama kota ini.

Dan saat macet plus hujan deras, dingin, dan novel mellow yang memutar-mutar mood gue, gue kena virus kangen. Kangen sama doi, yang entah lagi ngapain. Padahal libur di Yogya dengan seabrek kegiatan yang gue lakukan plus ketidakberadaan dia selama 10 hari udah lebih dari cukup buat menepis segala macam kegalauan dan kangen yang udah ga semestinya gue rasakan.

Dan nyatanya, between gengsi dan kangen, si kangen selalu menang. Membawa gue end up blogging di pojokan restoran Cina di hotel super mewah ini.

Gue kangen dia. Dan berharap ini vacation gue sama dia. Sampai gue membaca secuplik bagian di novel yang gue baca di mobil.

Ada benernya yah.....alasan ini semua berakhir digambarkan persis di cuplikan novel itu.

Dan untuk beberapa saat, gue tersadar. Kangen gue mending buat crowdednya Malioboro dan jalan Yogya yang nggak pernah bikin gue nyesel. Atau buat amazingnya desa Candirejo, atau magnificentnya Candi Borobudur, dan deburan ombak Parangtritis, atau temaramnya lampu malam Yogya yang menghipnotis.

Kalo kangen buat lo.....masihkah harus?

Komentar