I Saw the Truth

Just so true to be ignored


Today, I saw the truth.

Manusia itu, makhluk paling luar biasa. Mereka punya sesuatu yang spesial, yang nggak bisa digantiin sama blue collar Astro Boy atau Matrix of Leadership-nya Transformers. Manusia punya sesuatu yang disebut akal budi,hati yang punya feelings - not instings, dan kemampuan berekspresi yang luar biasa bagus. Manusia itu, indah.

Manusia butuh bantuan orang lain. Manusia enggak bisa hidup sendiri. Manusia makhluk sosial yang selalu membutuhkan kehadiran orang lain disekitarnya. Itulah mengapa ada Hawa ketika Tuhan membuat Adam, karena Adam butuh teman yang sejenis dengannya. Manusia. Bukan binatang-binatang. Manusia butuh teman sesama manusia.  

Itu kata mereka. Tapi gue menemukan sesuatu yang lain hari ini.

Manusia memang butuh orang lain, butuh teman, butuh kekasih, butuh kehadiran orang-orang dalam hidupnya. Tapi pada akhirnya, manusia akan sendirian. Semua keputusan yang diambil manusia, balik-baliknya ke manusia itu sendiri. Manusia mau tidak mau akan bertahan, sendirian. Manusia akan berjuang untuk menggapai apa yang dia cita-citakan, sendirian. Ketika manusia itu sedih atau marah, dia akan merasakannya sendirian. Sadar nggak sih kalau orang-orang di sekitar nggak pernah benar-benar perduli. Mereka hanya ingin tahu. Karena itu nggak jarang orang-orang nggak bisa terlalu banyak membantu masalah lo karena mereka nggak sepenuhnya perduli, hanya ingin tahu kok!

Apa bedanya punya pacar sama nggak punya pacar?

Nggak ada.

Matahari masih bersinar, hujan masih turun, bumi masih berputar. Hari-hari bergulir, gue masih bernafas. Kalau orang bilang "Nggak ada yang sayang-sayang, pegang tangan, peluk-peluk, di-BBM, ngga ada yang perhatiin lagi," persetan. Pada akhirnya lo akan menemukan segala macam cara untuk bertahan dalam kesendirian lo dan membentuk lo menjadi karakter yang kuat.

Apa itu sahabat?

Orang yang tanpa diminta akan mengerti kita. Orang yang cukup melihat mata atau ekspresi nggak enak di muka kita bisa tahu kalau kita nggak baik-baik saja dan nggak pernah baik-baik saja. Orang yang bukan cuma enak diajak senang, tapi akan menopang lo disaat lo jatuh. Orang yang menghargai perasaan lo, menjaganya dengan baik seperti sesuatu yang berharga.

Akan lebih baik punya 10 sahabat yang memang tinggal buat lo, menghargai lo, dibanding 1000 orang yang pergi dan nggak pernah menghargai lo.

Akan lebih baik tidak mempunyai siapa-siapa untuk dicintai dan mencintai kita, dibanding mencintai tanpa kepastian dan terus ditarik ulur.

Lebih baik diam dan merenung bersama orang bijak, dibandingkan tertawa dan berpesta bersama orang munafik.

Lebih baik tidak kembali dan mengulangi hal yang salah, melawan segala jenis egoisme dan keinginan serta rindu, daripada malah melukai.

Semua akan lebih baik.

Komentar