Postingan

Sewindu Itu Delapan Tahun

Gambar
Lucu.
Ketika aku harus mengucap Pisah
Padahal tidak pernah bersama.

Sedih.
Ketika aku harus mengucap Lupa
Padahal sekalipun kamu tidak pernah mengingat.

Perih.
Ketika aku harus mengucap Selamat tinggal.
Kepada pertemuan-pertemuan kita.
Padahal kita tidak pernah benar-benar mempertemukan diri karena kita ingin.
Tapi karena kita harus. Pertemuan yang dipaksakan.

Jantungku berdegup lebih kencang setiap mendengar namanya.
Membayangkannya denganmu.
Membayangkan aku,
Yang  bagimu tidak pernah benar-benar ada,
Menjadi benar-benar tidak ada.

Dari semua wanita, mengapa dia?
Jangan balik tanya, "Dari semua pria, mengapa saya?"
Hampir sewindu, tidakkah kamu menyadarinya?
Pernahkah kau mencoba memahaminya?
Tidakkah kau berani untuk mencobanya?
"Karena kamu adalah sempurna," begitu akan jawab saya.

Pahit!
Ketika aku harus mengerti bagaimana rela melepas pergi,
Pada sesuatu yang tidak pernah sempat dimiliki.

Sakit.
Ketika aku harus ditolak,
Padahal menyatakan saja tidak pernah.

Lukaku Kakukaku

Gambar
Jatuh kepadamu menimbulkan luka yang cukup dalam, membekas pada hatiku. Coba bayangkan luka sungguhan. Berdarah, perih, sakit, beberapa menangis karenanya. Namun aku tidak menangis, karena aku pernah mengalami yang lebih parah sebelumnya. Atau sebetulnya sakit -- namun aku memilih untuk tidak merasakannya.

Lukaku tidak akan sembuh jika kamu terus berada di dekatku. Menjauh darimu sudah membuat lukaku yang tadinya basah, bernanah, menjadi kering. Keringnya menimbulkan rasa gatal. Ingin kugugaruk, tapi semakin kugaruk hanya akan menambah parah lukanya. Saat akhirnya aku menyerah kepada lukaku dan menggaruknya, ternyata ia terbuka lagi dan berdarah lebih parah. Memperlambat penyembuhanku.

Pagi ini aku bangun, melihat namamu di layar handphoneku. Jangan lupa, aku melihat namanya juga. Aku tersenyum pahit. Gatal rasanya untuk membalas pesan-pesanmu. Gatal sekali rasanya ingin kembali jatuh kepadamu. Gatal sekali, ingin aku menggaruknya!

Kemudian aku melihat lukaku. Tidak kunjung sembuh. A…

Kamu yang Dulu, Kamu yang Sekarang

Gambar
Dulu, mencintaiku adalah hal termudah di dunia yang bisa kau lakukan.



Memanggilku sayang bukanlah hal sulit. Terucap begitu saja keluar dari hatimu.

Menanggapi ceritaku, kelakarku, keluh kesahku, bukan perkara sukar seperti menyelesaikan persamaan logaritma. Sangat mudah, kamu natural menjalaninya.

Memberikan waktumu untukku tidaklah sesulit sekarang, benar bukan sayang? Kau rela memberikannya karena waktu yang paling berharga untukmu adalah waktumu bersamaku.

Semudah itu kau mencintaiku, semudah itu pula kau pergi, dan semudah itu pula kau mencintainya.

Dan semudah itu pula kau kembali, seolah tidak ada apa-apa. Kau disana, bertanya apa kabarku. 1 pertanyaan tiba-tiba yang berhasil meruntuhkan tembok perlindungan yang susah payah sudah kubangun untuk menghindarimu - memisahkan seluruh diriku dengan dirimu.

Semudah itu kau datang.

Semudah itu aku menerimamu.

Semudah itu aku berpikir semua akan berubah. Aku akan lebih kuat, kamu akan lebih baik.

 Dan semudah itu pula, aku salah.

Kini, …

The Bird and Its Tree

Gambar
I always wonder why
birds stay in the same place
when they can fly
anywhere on the earth.

Then I ask myself the same question.

"Gaada yang gampang", ujarnya. Dalam percakapan kecil kami di messenger.

Yap. Termasuk terbang pindah ke pohon lain, tidak semudah menangis buat kamu.

PS: Maybe the bird loves its tree too much. Or maybe, there ain't another tree.

Grey Sky Morning

Gambar
So you sailed away into a grey sky morningNow I'm here to stay, love can be so boringNothing's quite the same now, I just say your name now

Hai, apa kabar?
Sudah berapa lama kita tidak bicara? Aku tidak pernah tahu kabarmu, bila orang lain tidak menceritakannya kepadaku. Aku jarang membicarakanmu, karena saat namamu disebut, rasanya sakit. Tetapi aku tetap ingin tahu kabarmu. Kadang aku suka mengetik namamu di layar handphoneku, namun kuurungkan niatku. Kemarin aku kira aku melihatmu di kerumunan pengunjung bioskop. Aku, yang telah mengenalmu luar dalam, tahu itu bukan kamu. Tapi apa daya, aku rindu bicara kepadamu. Sesuatu yang tidak kamu rindukan, tetapi aku masih merindukannya. Ngenes kalau kata orang. Akhirnya kita bicara, dalam ruang bicara sempit, terdiri dari beberapa balon kata yang berisi tidak lebih dari lima kata. Nampaknya kamu tidak tertarik dengan keadaanku.
Tidak apa-apa. Aku sudah menduga. Tetapi, aku tetap tersenyum senang saat melakukannya.
Bagaimana hari-harimu?

I Saw the Truth

Gambar
Today, I saw the truth.

Manusia itu, makhluk paling luar biasa. Mereka punya sesuatu yang spesial, yang nggak bisa digantiin sama blue collar Astro Boy atau Matrix of Leadership-nya Transformers. Manusia punya sesuatu yang disebut akal budi,hati yang punya feelings - not instings, dan kemampuan berekspresi yang luar biasa bagus. Manusia itu, indah.
Manusia butuh bantuan orang lain. Manusia enggak bisa hidup sendiri. Manusia makhluk sosial yang selalu membutuhkan kehadiran orang lain disekitarnya. Itulah mengapa ada Hawa ketika Tuhan membuat Adam, karena Adam butuh teman yang sejenis dengannya. Manusia. Bukan binatang-binatang. Manusia butuh teman sesama manusia.  
Itu kata mereka. Tapi gue menemukan sesuatu yang lain hari ini.
Manusia memang butuh orang lain, butuh teman, butuh kekasih, butuh kehadiran orang-orang dalam hidupnya. Tapi pada akhirnya, manusia akan sendirian. Semua keputusan yang diambil manusia, balik-baliknya ke manusia itu sendiri. Manusia mau tidak mau akan bertahan,…

Dia yang Tak Pernah Benar-benar Kembali

Gambar
Hari ke sepuluh. Badai.
Gue. Yang terlalu melekat. Dan tidak mau menghadapi kenyataan bahwa semua sudah berubah, dan tidak bisa melakukan apa-apa.
Dia. Baik-baik saja. Selalu begitu. Sedang menarik jangkar bersiap untuk pergi.
Gue. Menatap ke perbatasan langit dan laut. Diam.
Dia. Menepuk punggung gue dengan rasa persahabatan, dan berkata, "Ayo kita melupakan kita,"
Gue. Menangis. Diam. Menatap kedepan.
Dia. Tersenyum. Punggung kokohnya tenang. Dia damai. Seperti yang selalu gue doakan.
Getir. 
Didepan sana ada badai. Hujan deras. Angin kencang. Awan tebal.
Percaya kan kalau dibalik itu semua, ada matahari cerah, laut tenang, angin sejuk, dan pelangi besar yang cantik?
Gue, menganggukkan kepala. Walaupun hati gue menggeleng terlalu keras sampai-sampai gue khawatir dia akan melihatnya.
Saat itu hujan turun. Deras. Membasahi kita.
Baguslah. Kali ini kau tidak perlu melihat aku menangis.